MARTIN RUNI

Martin Runi komposer musik liturgi



HAI MAKHLUK SEMUA aransemen SATB oleh Martin Runi, komposisi paduan suara yang menjadi debut Martin Runi dalam musik liturgi Katolik. Lagu ini mula-mula berjudul “Pujilah Allah Hai Umat Kudus-Nya”.

Lagu-lagu liturgi bernuansa Flores sampai sekarang masih sangat populer di lingkungan Gereja Katolik di Indonesia. Kalau anda rajin ikut misa, maka hampir pasti paduan suara (kor) membawakan lagu-lagu Flores. Entah itu Misa Dolo-Dolo, Misa Syukur, Misa Senja, atau lagu persembahan, komuni, syukur.

Jika pastor paroki atau pastor pembantu, plus aktivis kor kebetulan berasal dari Flores, wah, suasana Flores lebih terasa lagi. Saya sendiri, yang biasa misa di Surabaya, Sidoarjo, atau Malang, ibarat berada di kampung halaman sendiri: Flores Timur.

Kenapa kor-kor di Jawa senang lagu Flores? Bukan lagu klasik, gregorian, atau inkulturasi daerah daerah lain, termasuk Jawa? Jawabaya: “Lagu-lagu Flores itu enak-enak. Gampang dinyanyikan, tidak perlu latihan lama-lama, tapi enak. Semua orang suka,” ujar Fransisika, aktivis kor dari Malang, beberapa waktu lalu.

“Lagu-lagu dari Flores itu selalu jadi tops hits di gereja,” komentar Karl-Edmund Prier SJ, direktur Pusat Musik Liturgi (PML) Jogjakarta. Romo Prier bersama PML-nya sejak 1970-an ikut memopulerkan lagu-lagu liturgi Flores, dan daeah lain, ke seluruh Indonesia.

Flores itu satu-satunya pulau di Indonesia yang mayoritas penduduknya Katolik. Sejak abad ke-16 agama Katolik masuk ke Flores. Kemudian “dituntaskan” oleh misionaris SVD (Societas Verbi Divina) pada abad ke-19 sampai sekarang. Karena itu, bisa dipahami bahwa tradisi musik liturgi bercorak Flores sudah cukup berakar di nusa bunga itu.

Meski eksperimentasi inkulturasi sudah lama dilakukan oleh pater-pater SVD, menurut catatan saya, musik liturgi ala Flores benar-benar marak mulai akhir 1960-an, dilanjutkan 1970-an dan 1980-an. Ini tak lepas dari hasil Konsili Vatikan II (1962-1965) yang memberi ruang luas kepada gereja-gereja lokal untuk menyapa umat dengan bahasa dan gaya setempat.

Buku-buku nyanyian yang sudah ada macam JUBILATE, kemudian SYUKUR KEPADA BAPA, dinilai terlalu berbau Eropa. Nyaris tidak ada sentuhan musik lokal di situ.

Peluang ini dimanfaatkan oleh guru-guru musik maupun pater-pater yang musikalitasnya tinggi. Sekolah-sekolah guru di Flores, baik itu SGA (Sekolah Guru A), SGB (Sekolah Guru B), SPG (Sekolah Pendidikan Guru), dijadikan arena untuk mencetak guru-guru plus.

Guru-guru kampung di Flores memang didesain untuk tak hanya sekadar bisa mengajar mata pelajaran umum, tapi merangkap sebagai guru agama Katolik, plus mengajar paduan suara. Seminari Tinggi Ledalero, Maumere, Flores, pun menjadi motor utama inkulturasi musik liturgi.

Dipimpin Pater Anton Sigoama Letor SVD, Ledalero secara serius mengumpulkan nyanyian-nyanyian liturgi yang membumi. Pater Anton, kini almarhum, juga menulis buku khusus bagaimana teknik menyusun komposisi musik liturgi berdasar bahan-bahan lokal. “Kita di Flores punya tradisi musik yang luar biasa. Tinggal kita olah menjadi lagu-lagu atau musik liturgi,” kata Pater Anton suatu ketika.

Nah, salah satu pemusik muda penuh bakat waktu itu bernama MARTIN RUNI MARRUN. Dia frater, calon pater, yang kuliah di Seminari Tinggi Santo Paulus, Ledalero, Maumere, Nusatenggara Timur. Awalnya, Martin mengolah lagu-lagu ordinarium misa bercorak Prancis. Paket misa ini (lagu pembukaan, kyrie, gloria, persembahan, kudus, agnus dei, komunio) dikenal dengan Misa Roh Kudus. Polanya resitatif, ala gregorian, khas lagu liturgi standar Katolik.

Kemudian, Martin Runi Marrun menggebrak dengan Misa Syukur. Karena belum dibukukan, dan juga belum ada fotokopi, lagu-lagu misa ini beredar di seluruh Flores lewat stensilan. Karena mesin stensil juga terbatas, maka di kampung-kampung partitur paduan suara ditulis tangan. Guru menulis teks di papan tulis, pakai kapur, sementara umat di kampung mencatat di buku tulis masing-masing.

Di kampung-kampung Flores memang kebiasaan papan tulis di sekolah dasar itu selalu dipakai untuk sosialisasi lagu baru. Papan yang depan untuk pelajaran anak-anak SD. Di baliknya, aha, teks lagu-lagu liturgi baru. Karena lagu-lagu Flores itu pendek, tidak bertele-tele, komposisi macam ini cepat sekali dikuasai penduduk. Di mana-mana orang menyanyikan lagu misa baru yang dianggap enak. Mirip anak-anak muda di Jawa sekarang yang ke mana-mana menyanyikan lagu pop terkenal.

Dari sembilan lagu Misa Syukur, ada dua yang sangat-sangat populer. Yakni, “Tuhanku Gembalaku, Aku Dihantar Olehnya, di Padang Rumput Menghijau” dan “Pujilah Allah, Hai Umat Kudus-Nya”. Lagu kedua ini di kalangan umat Katolik di Indonesia sekarang lebih dikenal dengan “Hai Makhuk Semua Pujilah Tuhan Kita”.

Saya masih ingat suara Kak Fransisika, solis soprano di kampung, yang suaranya sangat merdu. Oh, ya, pola lagu-lagu Flores lazimnya bergantian antara solis dan kor. Bukan gaya Flores jika sebuah komposisi tidak punya bagian solo (sopran). Para solis ini biasanya sangat terkenal di seluruh kecamatan. Saya, misalnya, tahu bahwa di desa A solisnya si X, desa B solisnya Y, dan seterusnya.

Usai menggebrak dengan Misa Syukur, Martin Runi Marrun kembali mencetak hits besar dengan Misa Senja. Ketika saya masih kelas tiga sekolah dasar di kampung, Flores Timur, ordinarium misa ini diperkenalkan pada saat perayaan Paskah. Melodinya yang indah membuat lagu-lagu Martin Runi tak perlu banyak waktu untuk diterima umat di kampung.

Saya masih ingat bagaimana orang-orang kampung jalan kaki sekitar 15 kilometer dari Waipukang ke Atawatung sambil mendengarkan rekaman Misa Senja dari tape recorder. Ini rekaman langsung paduan suara yang bertugas pada misa agung Paskah. Bisa dibayangkan mutunya. Hehehe….

Misa Senja ini juga punya kelebihan di melodi solis. “Lihatlah Anak Domba Allah…” atau “Tuhan kasihanilah kami…” Ada permainan kanon antara sopran, alto, tenor, bas yang enak.

Martin Runi ini mirip dengan Ferdi Levi di Ende. Sama-sama penulis lagu liturgi yang manis, juga sama-sama gagal jadi pastor. Bedanya, Martin Runi kalah produktif dengan Ferdi Levi atau Paul Widyawan di Jogjakarta. Ini ada bagusnya karena komponis biasanya produktivitas atau kuantitas itu mengurangi kualitas.

Martin Runi itu sedang-sedang saja. Tidak obral lagu. Dia hanya mau merilis lagu benar-benar kuat melodinya. Yang bisa diterima umat, tak hanya di Flores, tapi seluruh Indonesia. Karena itu, komposisi lagu litugi karya Martin Runi, menurut saya, tetap enak sampai sekarang. Termasuk “Kupersembahkan, kepada Tuhan, seluruh hidupku….”

Lepas dari Flores, Martin Runi hijrah ke Jawa. Semangatnya dalam mengembangkan musik liturgi tetap tinggi. Bahkan, dari internet saya membaca bahwa Martin Runi ini juga mengajar paduan suara di berbagai tempat: sekolah, kampus, gereja, umum. Martin Runi pun kerap mendapat order menulis himne/mars sekolah atau kampus tertentu.

Saya berharap Martin Runi tetap sehat, diberkati Tuhan, dan terus berkarya. Banyak lho pembaca blog ini yang tinggal di luar negeri berkali-kali memesan lagu-lagu paduan suara karya Martin Runi. Sementara saya sendiri belum punya akses pada Martin Runi.

 

 

 

 

 

“Kupersembahkan”, aransemen SATB oleh Martin Runi. Sangat populer di Jawa.

Sumber: Marin Runi’s blog


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: