Manfaat Musik Klasik Dalam Bidang Pendidikan

Musik di Usia Dini

Sejak bayi, musik sangat berpengaruh dalam perkembangan otak si kecil. Musik sangat berperan dalam meningkatkan stimulasi bagi mereka. Stimulasi yang paling baik, dalam arti mendapat respons dari janin adalah suara ibu dan musik klasik. Musik erat kaitannya dengan daya pendengaran. Stimulasi musik klasik sebaiknya dilakukan setiap hari minimal setengah jam. Musik klasik ini bisa didengarkan sambil melakukan kegiatan lain. Bagi ibu hamil yang tidak begitu menyukai musik klasik dan selalu ketiduran bila mendengarnya, tidak perlu khawatir karena janin tetap bisa mendengarkan musik itu. Musik klasik juga memberikan pengaruh positif bagi perkembangan otak si kecil. Berdasarkan artikel yang saya baca bahwa terbentuknya telinga janin diawali pada usia kehamilan 24 minggu atau 5-6 bulan. Jika seluruh bagian dari telinga telah terbentuk, maka si janin akan mendengar suara yang datang dari luar rahim, seperti layaknya kita semua. Dan yang lebih menakjubkan, ternyata dari penelitian terbukti bahwa janin bukan saja mendengar, tapi juga memberikan respons terhadap segala suara yang didengarnya. Jadi, bila mendengar suara musik dari luar, maka si janin akan meresponsnya.

Selain itu, berdasarkan perkembangan embriologi, otak terdiri dari dua belahan, otak kanan dan otak kiri, yang pembentukannya dimulai pada awal-awal kehamilan sampai bayi lahir. Belahan otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik yang terdiri dari berbicara/kemampuan tata bahasa, baca-tulis-hitung, daya ingat, logika, analisis, angka dan lainnya. Karena bersifat logis, maka otak kiri berhubungan erat dengan pembentukan kecerdasan anak pada pendidikan formal. Sementara itu, belahan otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, serta sosialisasi dan pengembangan kepribadian.

Maka dari itu, perdengarkanlah musik klasik sejak dini untuk orangtua yang ingin si buah hatinya menjadi lebih cerdas peka terhadap lingkungan luar.

Karena mulai usia 10 minggu, janin sudah bisa mendengar suara-suara dari tubuh ibunya, seperti detak jantung, desir aliran darah, dan bahkan belaian pada perut ibu. Selanjutnya, sekitar usia 16 minggu, janin mulai bisa mendengar suara-suara dari luar tubuh ibu.

Anda bisa membuktikannya dengan mengajak janin bicara ataupun memperdengarkan musik jenis apa saja. Sebagai reaksi, ia akan bergerak-gerak yang menandakan otaknya dapat menerima rangsangan dari luar. Hal ini tentu saja membuat ibu bahagia karena itulah tanda kehidupan di dalam rahimnya berjalan baik, dan bayi kecilnya kini sudah bisa diajak “berkomunikasi”.

Selain suara ibu, ayah, atau kakak si bayi, musik adalah bentuk rangsangan yang paling disarankan untuk memicu pertumbuhan sel otak janin. Seluruh anggota keluarga dapat menyanyi bersama atau rajin-rajinlah ibu memperdengarkan musik bagi janinnya. Tentu saja, pilih lagu dan musik yang bernada riang serta menenangkan, karena nuansa ini mampu menciptakan emosi yang seimbang, baik bagi janin maupun ibu.

“Wanita hamil yang tidak stres dan tenang, tentu detak jantungnya akan lebih teratur. Keteraturan irama ini akan menenangkan bayi dalam kandungannya, yang bahkan juga bermanfaat saat persalinan,” kata Dra. Louise M. M. Psi, dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, yang menekuni terapi musik bagi ibu hamil dan anak-anak.

  • KLASIK TERBUKTI EFEKTIF

Menurutnya, apapun jenis musik itu, selama berirama tenang dan mengalun lembut, pasti akan memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak. Jadi, oke saja kalau ibu pilih mendengarkan musik jazz, pop, atau tradisional selama hamil. “Hanya saja, musik klasiklah yang sudah diteliti secara ilmiah dan terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak. Sedangkan untuk jenis musik lainnya belum pernah.”

Gubahan musik klasik ini, bila rajin diperdengarkan pada janin, akan memberikan efek keseimbangan emosi dan ketenangan. Dengan demikian, setelah lahir ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak cengeng dan mudah berkonsentrasi. Dengan modal ini, kemampuan bicaranya akan ikut terpacu, disusul kemampuan bersosialisasinya yang muncul lebih cepat.

Dengan kemampuan berkonsentrasi yang tinggi, anak juga lebih mudah menyerap informasi yang didapat dari lingkungan. “Nah, semakin banyak informasi yang dimilikinya, tentu semakin cerdas pula anak tersebut. Ini karena musik klasik bisa merangsang perkembangan otak anak, terutama yang berkaitan dengan daya penalaran, logika, dan kemampuan matematisnya.”

Di usia sekolah, kemampuan berkonsentrasi ini tentu sangat berperan dalam membentuk prestasi, karena “Anak akan lebih mudah belajar,” papar Louise. Seperti kita ketahui, keluhan yang paling banyak disampaikan orang tua mengenai anak-anak usia sekolah adalah kurangnya kemampuan berkonsentrasi ini. Jika terapi musik ini diikuti dengan benar, besar kemungkinan anak-anak akan terhindar dari hal tersebut.

Namun, tak perlu khawatir kalau semasa hamil, ibu belum sempat memanfaatkan terapi musik ini, sebab, “Terapi musik tetap bisa dilakukan mulai sampai anak berusia 3 tahun, bahkan lebih,” ungkap Louise. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk segera memulainya. Untuk anak-anak yang sudah lebih besar, ada baiknya untuk mulai diperkenalkan dengan alat musik, sehingga mereka bisa bermain musik untuk dirinya sendiri.

  • MUSIK YANG DIANJURKAN DAN TIDAK

Namun, nyatanya tidak semua musik dianjurkan untuk diperdengarkan pada janin, bayi dan balita. “Yang tidak disarankan adalah musik dengan irama keras dan cepat, seperti irama rock, disco, serta rap. Musik yang terlalu keras akan membuat mereka tegang dan gelisah,” tambahnya. Jadi, bukan jenis musiknya yang boleh atau tidak boleh, tapi beat atau iramanya.

Kalau pakar menganjurkan kita untuk menyimak dan memperdengarkan musik klasik, itu karena komposisinya yang sangat lengkap dan harmonis. Lalu, bagaimana dengan orang tua yang tidak menyukai musik klasik?

“Bisa jadi sebenarnya mereka bukan tidak suka, tapi tidak menyadari bahwa selama ini musik klasik selalu hadir dalam kehidupannya. Perhatikan, deh, saat menonton film kartun di teve, musik yang mengiringi biasanya jenis musik klasik,” tanggap Louise. Jadi sebaiknya orang tua belajar untuk mulai menyukainya lebih dulu. “Kalau ternyata tetap tidak suka, pilihlah jenis musik lain sepanjang iramanya mengalun lembut.”

Setelah bayi lahir, jenis musik yang diperdengarkan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi saat itu. “Menjelang ia tidur, pilihlah musik instrumental yang tenang dan lembut. Dengan begitu, anak dapat segera terlelap,” saran Louise lagi. “Sebaliknya, untuk menemani anak bermain, pilih musik yang bernada riang dan gembira, sehingga ia merasa bersemangat untuk melakukan aktivitasnya.”

  • MOZART, TERBUKTI PALING POSITIF

Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya gubahan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, musik-musik karyanya memberikan efek paling positif bagi perkembangan janin, bayi dan anak-anak. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “efek Mozart”.

Dibanding gubahan musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Komposisi yang disusunnya telah berhasil menghadirkan kembali keteraturan bunyi yang pernah dialami bayi selama dalam kandungan. “Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan, lo,” tukas Louise.

  • EFEK MOZART

Dengan memperdengarkan Mozart secara teratur semenjak masa kehamilan, akan banyak efek positif yang bisa didapat. Di antaranya:

* Orang tua dapat berkomunikasi dan bersambung rasa dengan anak bahkan sebelum ia di

lahirkan.

* Musik ini dapat merangsang pertumbuhan otak selama masih dalam rahim dan pada awal masa kanak-kanak.

* Memberikan efek positif dalam hal persepsi emosi dan sikap sejak sebelum dilahirkan.

* Mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik.

* Meningkatkan perkembangan motoriknya, termasuk lancar dan mudahnya anak merangkak, berjalan, melompat dan berlari.

* Meningkatkan kemampuan berbahasa, perbendaharaan kata, kemampuan berekspresi, dan kelancaran berkomunikasi.

* Meningkatkan kemampuan sosialnya.

* Meningkatkan keterampilan membaca, menulis, matematika, dan kemampuan untuk mengingat serta menghapal.

* Membantu anak membangun rasa percaya dirinya.

  • TERASA MANFAATNYA

Memutar musik klasik untuk bayi Anda, anak Anda dan bahkan “roti di oven” Anda dan anak Anda akan tumbuh menjadi lebih cerdas. Memutar musik klasik untuk Bayi Andari, Andari anak dan bahkan “Andari” roti di oven dan anak Tumbuh Cerdas Andari akan lebih menjadi.
Nasihat ini beredar luas, yang dijuluki “Mozart Effect,” telah menjadi mantra untuk orang tua baru. Saran Luas distributes Suami, Yang dijuluki “Mozart Effect,” telah menjadi mantra untuk Orang Tua Baru. Dan premis yang telah mendorong pembentukan garis seluruh CD, DVD, buku dan media lainnya semua didasarkan pada topik bagaimana membuat anak-anak Anda lebih cerdas dengan meminta mereka mendengarkan musik klasik. Dan premis Yang telah mendorong pembentukan Garis seluruh CD, DVD, buku media dan Lainnya.

* Semua berdasarkan topik bagaimana anak-anak Membuat lebih Cerdas Andari Artikel Baru meminta mereka mendengarkan musik klasik.

The “Mozart Effect” – gagasan bahwa bermain musik klasik akan membuat bayi Anda lebih pintar – didasarkan pada studi mahasiswa. The “Mozart Effect” – gagasan bahwa Bermain musik klasik akan Membuat Bayi Pintar Andari lebih – didasarkan PADA studi Mahasiswa.
Manakah “Mozart Effect” dimulai? Manakah “Mozart Effect” dimulai?
Pada tahun 1993, psikolog Frances Rauscher menerbitkan sebuah studi dalam jurnal Nature (Nature. 1993 Oktober 14, 365 (6447)) “. Musik dan Tata Ruang Task Performance” berjudul PADA years 1993, psikolog Frances Rauscher menerbitkan sebuah jurnal studi KESAWAN Alam (Nature. 1993 Oktober 14, 365 (6447)) “berjudul Musik dan Tata Ruang Task Performance”.
Penelitian ini melibatkan 36 mahasiswa yang mendengarkan 10 menit sonata Mozart, lagu relaksasi atau diam, maka diminta untuk menyelesaikan beberapa tugas penalaran spasial (seperti menentukan apa kertas dilipat yang dipotong akan terlihat seperti ketika itu dilipat) . Suami PENELITIAN melibatkan 36 Mahasiswa Yang mendengarkan 10 menit sonata Mozart, diam atau lagu relaksasi, Maka diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas spasial beberapa alasan (Pembongkaran menentukan APA Kertas dilipat Yang dipotong akan terlihat Pembongkaran dilipat ketika ITU).
Para mahasiswa yang telah mendengarkan Mozart menunjukkan perbaikan yang signifikan (sekitar delapan sampai sembilan spasial IQ poin) kinerja mereka dari beberapa tugas. Para Mahasiswa Yang telah mendengarkan Mozart signifikan menunjukkan perbaikan Yang (sekitar Delapan Sampai sembilan spasial IQ poin) Kinerja mereka Dari beberapa tugas.
Dari penelitian ini, “Mozart Effect” lahir, dan liputan media menggembar-gemborkan manfaat musik klasik, tidak hanya untuk mahasiswa, tapi untuk bayi, anak-anak dan janin, mulai. Dari Suami PENELITIAN, “Mozart Effect” Lahir, liputan media Manfaat dan menggembar-gemborkan musik klasik, regular tidak Hanya untuk Mahasiswa, TAPI untuk Bayi, anak-anak dan janin.
Apakah “Mozart Effect” Hype Semua? Apakah “Mozart Effect” Hype * Semua?
Sebuah tinjauan 1999 dari berbagai penelitian selanjutnya menemukan bahwa tidak ada yang bisa memverifikasi temuan dari studi 1993 asli, menurut laporan dari Universitas Stanford, yang mencoba menjelaskan mengapa studi ini dipilih, dan mengapa menemukan menjadi begitu populer. Sebuah tinjauan 1999 Dari berbagai PENELITIAN selanjutnya menemukan bahwa regular tidak ADA Yang Bisa memverifikasi temuan Dari studi 1993 asli, menurut Laporan Dari Universitas Stanford, Yang mencoba menjelaskan mengapa studi Suami dipilih, dan mengapa menemukan menjadi populer begitu.
Bahkan, setelah “Mozart Effect” menjadi dipublikasikan secara luas (Stanford peneliti menemukan bahwa “Musik dan Tata Ruang Task Performance” dikutip dalam 50 surat kabar atas AS 8,3 kali lebih banyak daripada kertas kedua yang paling populer pada waktu itu) menyatakan berlalu beberapa undang-undang bahwa pusat-pusat penitipan anak diperlukan negara-subsidi untuk memainkan musik klasik.

Bahkan, Penghasilan kena pajak “Mozart Effect” menjadi dipublikasikan Secara Luas (Stanford Peneliti menemukan bahwa “Musik dan Tata Ruang Task Performance” dikutip di surat kabar AS tetap Permanent 50 8,3 kali lebih small BANYAK Yang pagar populer ITU Kertas kedua di julian) beberapa Negara Name of undang-undang berlalu bahwa Negara-Pusat penitipan anak subsidi diperlukan untuk memutar musik klasik. Lain berlalu Hukum untuk memberikan

* Semua ibu Baru CD musik klasik di rumah sakit melahirkan Penghasilan kena pajak.
Para peneliti Stanford berteori bahwa studi banding ke kegelisahan masyarakat dan obsesi dengan pendidikan anak-anak mereka. Para Peneliti Stanford berteori bahwa studi banding ke Teman kecemasan Orang anak dan Obsesi’s Artikel Baru Pendidikan mereka.
Fun Klasik Musik untuk Kids Fun Musik Klasik untuk Anak-Anak
Kebanyakan anak-anak mencintai musik, dan klasik tidak terkecuali. CD berikut ini adalah campuran ideal menyenangkan, budaya dan inspirasi untuk memperkenalkan anak-anak Anda dengan musik klasik. Kebanyakan anak-anak mencintai musik, dan klasik regular tidak terkecuali. CD berikut merupakan Campuran menyenangkan ideal, sector dan inspirasi untuk memperkenalkan anak-anak Andari Artikel Baru musik klasik.

1. The Mozart Effect Musik untuk Anak-anak, Volume 2: Tenang, Racun, & Draw Efek Musik Mozart untuk Anak-anak, Volume 2: Tenang, Racun, & Draw.

2. Karnaval dari Hewan: Musik Klasik untuk Anak Karnaval Dari HEWAN: Musik Klasik untuk Anak
3.Sergei Prokofiev Peter dan Wolf: Dengan-sepenuhnya dirancang dan Dikisahkan CD Sergei Prokofiev Peter dan Suami Wolf: Penuh untuk Artikel-dirancang dan dikisahkan CD


BEETHOVEN UNTUK BAYI BEETHOVEN

“Ini tampaknya merupakan manifestasi terbatas dari serangan yang luas, kepercayaan yang lebih tua yang telah diberi label ‘bayi determinisme,’ gagasan bahwa periode kritis awal dalam pembangunan memiliki konsekuensi tidak dapat diubah selama sisa kehidupan anak,” kata para peneliti Stanford. “Ini tampaknya merupakan manifestasi Terbatas Dari Yang Luas Serangan, kepercayaan Yang lebih tua Yang ‘Bayi determinisme,’ telah diberi label memiliki gagasan bahwa Keterangan akhir periode KESAWAN Pembangunan konsekuensi regular tidak diubah selama SISA Hidup anak dapat,” kata Stanford Peneliti ITU. “Hal ini juga berlabuh di keyakinan yang lebih tua dalam kekuasaan menguntungkan musik.” “Hal Suami Juga berlabuh di keyakinan Yang lebih tua KESAWAN kekuasaan menguntungkan musik.”
Bahkan penulis asli studi, Frances Rauscher, sekarang seorang profesor psikologi di University of Wisconsin-Oshkosh, tampaknya percaya hasil studi tertiup luar proporsi. Bahkan’s asli Penulis studi Suami, Frances Rauscher, sekarang seorang profesor psikologi di University of Wisconsin-Oshkosh, tampaknya Percaya Hasil studi ITU meledak di Luar proporsi.
“Saya hanya akan mengatakan bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa anak-anak yang mendengarkan musik klasik akan memiliki peningkatan dalam kemampuan kognitif,” kata Rauscher di Scientific American. “Saya Hanya akan mengatakan bahwa regular tidak ADA Bukti meyakinkan bahwa Yang Yang anak-anak mendengarkan musik klasik akan memiliki peningkatan kemampuan kognitif KESAWAN,” kata Rauscher di Scientific American. “Ini benar-benar mitos, di pendapat saya rendah hati.” “Ini Benar-Benar Mitos, di pendapat otonashi rendah hati.”
Musik Klasik APAKAH Apakah Manfaat Musik klasik regular tidak Memiliki Manfaat
Musik klasik, tampaknya, tidak boleh mengubah anak Anda menjadi jenius, tetapi memiliki manfaat banyak terbukti. Musik klasik, tampaknya, mengubah Boleh regular tidak Andari menjadi anak jenius, tetapi memiliki Manfaat BANYAK terbukti.

Sumber :www.SixWise.com Oleh http://www.SixWise.com

Beberapa penelitian telah dilakukan dalam membuktikan manfaat musik klasik bagi kesehatan, terutama untuk kecerdaan otak. Memang dalam hidup ini kita tak kan pernah lepas dari yang namanya musik. dimanapun kita berada kita akan selalu bersentuhan dengan musik. namun pilihan kita terhadap musik juga dapat berpengaruh pada kesehatan kita.

Pada tahun 1998, Don Campbell, seorang musisi sekaligus pendidik, bersama Dr. Alfred Tomatis yang psikolog, mengadakan penelitian untuk melihat efek positif dari beberapa jenis musik. Hasilnya dituangkan dalam buku mereka yang di Indonesia diterbitkan dengan judul Efek Mozart, Memanfaatkan Kekuatan Musik Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas dan Mnyehatkan Tubuh.Banyak fakta menarik yang diungkap Campbell dan Tomatis. Diantaranya, adanya hubungan yang menarik antara musik dan kecerdasan manusia.

Musik (klasik) terbukti dapat meningkatkan fungsi otak dan intelektual manusia secara optimal. Campbell kemudian mengambil contohkarya Mozart, Sonata in D major K 488 yang diyakininya mempunyai efek stimulasi yang paling baik bagi bayi.

Sedangkan menurut Dra. Louise, M.M.Psi., psikologi sekaligus terapis musik dari Present Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, sesungguhnya bukan hanya musik Mozart yang dapat digunakan. Semua musik berirama tenang dan mengalun lembut memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak.

Lebih sering disebut efek Mozart sebab musik-musik gubahan Mozart-lah yang pertama kali di teliti.

Dikutip dari “INTISARI : Kumpulan Artikel Psikologi Anak 3” di mtvasiablog.com

Penelitian lain juga pernah dilakukan.

Frances Rauscher dan koleganya dari Universitas Wisconsin, AS melakukan penelitian hubungan antara kecerdasan dan musik. Para peneliti dari perguruan tinggi tersebut membagi dua kelompok tikus hamil. Kepada kelompok pertama diperdengarkan sejumlah sonata-sonata yang indah dari Mozart. Lalu, bayi-bayi tikus yang baru lahir masih tetap disuguhi musik yang sama sampai mereka berusia 2 bulan. Kelompok induk lainnya diperdengarkan musik minimalis Glass dan hal itu dilanjutkan sampai bayi-bayi tikus berusia 2 bulan.

Rauscher dan kawan-kawannya kemudian menguji apakah “vitamin musik” yang diberikan sebagai makanan suplemen untuk dua kelompok tikus itu memberi dampak pada kecerdasan. Mereka menguji tikus-tikus bayi itu untuk berlomba di jaringan jalan yang ruwet, jalan yang simpang siur, untuk mendapatkan hadiah makanan. Hasil uji coba sangat mengesankan. Bayi-bayi tikus yang mendapatkan “vitamin musik klasik” dari sonata-sonata Mozart bekerja dengan sempurna dan sedikit sekali melakukan kesalahan dan mereka membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk makanan sebagai hadiahnya. Sedangkan kelompok tikus yang mendapat vitamin musik minimalis dari Glass tampak tidak secerdas kelompok “klasik”. Demikian laporan para peneliti dalam jurnal ilmiah Neurological Research seperti yang dikutip oleh Reuters (5/8/98).

Penelitian tersebut mengisyaratkan musik yang kompleks (musik klasik) telah meningkatkan daya belajar tikus terhadap ruang dan waktu (spatial-temporal). Dan hal ini juga berlaku untuk manusia. Para peneliti sampai pada kesimpulan, kemampuan spatial dapat ditemukan pada orang yang telah mendapat pelajaran matematika, musik dan ilmu pengetahuan. Penelitian diatas menguatkan hasil penelitian selama ini mengenai pengaruh musik klasik pada peningkatan kecerdasan. UNESCO Music Council malah telah menegaskan, pertama, musik klasik adalah alat pendidikan. Kedua, musik adalah alat untuk mempertajam rasa inteletual manusia (intellect Einfullung). Musik yang demikian biasanya mempunyai keseimbangan antara empat unsur musik, yakni melodi, harmoni, irama (rhythm) dan warna suara (timbre). Musik yang memenuhi persyaratan ini adalah musik klasik, semi klasik, musik rakyat juga musik tradisional seperti karawitan.

Sepertinya sudah saatnya kita menerapkan musik klasik untuk mencerdaskan anak bangsa.

clasic, kesehatan otak, musik klasik, musik mozart, penelitian musik, perkembangan otak

Sumber: http://www.gloriamus.org

Curhat artis mengenai musik klasik untuk bayi

saat ini sedang sibuk menggeluti musik-musik klasik. Melalui kepiawaiannya bermain piano, pemeran Sarah dalam “Si Doel Anak Sekolahan” itu memainkan musik klasik demi calon jabang bayi yang sedang dikandungnya.

“Selama hamil saya main piano, termasuk bikin musik klasik. Kan bagus tuh, untuk tumbuh kembang anak,” katanya. Cornelia menilai musik klasik penting bagi perkembangan janin dalam kandungan.

“Banyak buku yang mengulas pentingnya musik klasik untuk perkembangan psikologis anak. Sungguh kebetulan, saya bisa bermain piano di saat senggang dan memungkinkan saya untuk menciptakan musik klasik,” ujarnya.

Selain musik klasik, wanita kelahiran 11 Januari 1973 itu juga aktif berlatih yoga. Jenis meditasi itu, kata dia, baik untuk perkembangan mental dan fisik ibu dan janin. Selain itu, bayi kembar yang dikandungnya juga dimanjakan dengan berbagai asupan makanan yang kaya gizi.

“Yang jelas saya mengonsumsi sayur dan buah-buahan,” kata istri Sonny Lalwani itu berbinar.

Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah artikel bertema “Musik Indonesia di kurun 1960-65″. Beruntung, makalah itu dibahas oleh dua orang teman dari Amerika dan Belanda. Saya yakin perspektif lain akan muncul. Saya sempat terkejut kemudian, tatkala pertanyaan yang diajukan tustru tentang ‘engaruh musik klasik Barat terhadap musik Indonesia pada konteks pembahasan artikel saya. Hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Tersadarlah bahwa musik klasik memberi pengaruh besar terhadap perjalanan musik Indonesia. Ingatan saya pun langsung tertuju kepada sosok komponis Amir Pasaribu.

Untuk kedua kalinya, saya masih beruntung. Sambil menunggu perjalanan pesawat menuju Yogya, saya mampir ke sebuah toko buku di Jakarta, di antara baris rak yang berjajar saya menemui buku Eritha Rohana Sitorus yang akan membantu meluaskan pengetahuan tentang musik klasik, berjudul Amir Pasaribu: Komponis, Pendidik & Perintis Musik Klasik di Indonesia.

Eritha Rohana Sitorus memulai dengan kehidupan Amir kecil. Amir dilahirkan 21 Mei 1915. Masa kecil Amir digambarkan selintas lalu. Pada bagian pembuka Eritha banyak membahas kondisi sosial, politikk dan geografi daerah Batak yang memberikan penggaruh pada pendidikan Amir. Sosok Amir seperti digambarkan Eritha tumbuh di lingkungan yang menyukai musik klasik: “mir Pasaribu, sewaktu kecil biasa mendengarkan lagu-lagu Jerman, dan lagu-lagu Klasik dari gramofon ayahnya. Ayahnya memiliki orgel harmonium…. Amir sekeluarga senang mendengarkan musik klasik”

Pendidikan yang dikenyam Amir nampaknya memberi banyak kontribusi pada perjalanan musiknya, meskipun ia sempat dikeluarkan dari sekolahnya karena dia dianggap bengal. Pada malam hari, Amir bersama teman-temannya acapkali menyelinap dari asrama untuk membeli makanan. Beberapa kali ia tertangkap. Terakhir kali tertangkap, ia harus menerima hukuman dipukul dengan rotan dan dianggap sebagai kepala perampok. Alhasil, ia harus keluar dari HIS di Narumonda.

Amir melanjutkan pendidikannya di Europeese Lagere School. Di sinilah Amir belajar biola dan piano. Memutuskan melanjutkan sekolah di HIK Bandung, membuat bakat musik Amir semakin berkembang, apalagi di Jawa ia bisa mencari guru musik sesuai keinginannya. Amir acapkali bermain musik di sore hari, dengan membawakan lagu-lagu klasik di kebun-kebun teh milik orang Belanda. Atas ajakan teman-teman band dari Filipina, ia sempat menjadi pemain celo di kapal pesiar, hingga ia bisa melanjutkan sekolah di Musashino Music School di Jepang. Kemahirannya bermain musik jualah yang menyebabkan ia diloloskan duta besar Belanda untuk belajar musik klasik ke Eropa.

Dengan ilmu yang cukup matang, Amir Pasaribu lahir tidak hanya menjadi pemusik tetapi  juga pencipta lagu dan kritikus musik yang handal. Beberapa kritik Amir Pasaribu ini dilansir di Mimbar Indonesia. Saya pernah membaca artikelnya bertajuk ‘Konser Populer 7 Desember’ dan  ‘Musik di Ibu Kota: Duo Giesen-Hoenderkamp’. Nampaknya Amir adalah kritikus musik yang baik. RRI, salah satu media yang memberi andil besar menaikkan musik-musik Indonesia, tak luput dari kritikannya karena mengunakan istilah musik yang salah dalam siarannya.

Dalam buku Teguh Esha, dkk Ismail marzuki: Musik, Tanah Air dan Cinta (Yogyakarta, 2005: LP3ES), diungkapkan betapa kerasnya Amir mengkritik Ismail Marzuki dengan menyebut musiknya dengan istilah “onggol-onggol” alias pasaran. Sayang hal ini tidak diulas mendalam oleh Eritha. Ertitha justru menyoroti polemik Amir Pasaribu dengan Armijn Pane. Amir tidak setuju dengan anggapan Armijn Pane atas musik C. Simanjutak yang dianggap musik bernafas gereja [6].

Artikel Tempo 51/XXXVII 09 Februari 2009 menceritakan, Amir pernah melakukan perjalanan (1954) bersama sastrawan Rivai Apin, novelis Pramoedya Ananta Toer, budayawan Joebar Ajoeb, dan pelukis Basuki Resobowo,  yang notabene adalah penggurus dan anggota Lembaga Kebudayaan Rakjat (Lekra). Hingga memungkasi membaca buku ini saya terus bertanya-tanya “sejauh dan sedekat apa hubungan mereka?”. Sayang saya tidak menemukan jawaban dalam buku Eritha ini.

Lepas dari semua itu, Eritha Rohana Sitorus sudah berupaya keras untuk menyajikan sebuah biografi yang utuh. Sebuah kerja keras yang pantas dihargai. Buku ini menjadi penting untuk melihat perjalanan dan sepak terjang musik Indonesia, menjadi lentera bagi siapa saja yang ingin menggenal sosok Amir Pasaribu lebih dekat, sekaligus membuat kita tak bisa menyangkal bahwa musik Klasik Barat memberi andil yang besar pertumbuhan terhadap musik Indonesia.

Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantri (Periset Sejarah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: